Collage
"Best Deal"

    Menurut sosiolog Inggris, Colin Campbell, dalam bukunya “Elusive Consumption”, menyatakan bahwa konsumerisme adalah “kondisi sosial yang terjadi saat konsumsi "sangat penting dan menjadi pusat bagi kehidupan kebanyakan orang dan bahkan tujuan hidup. Ketika hal ini terjadi, segala kegiatan hanya akan ditujukan untuk pemenuhan konsumsi saja.

Dalam pandangan Baudrillard, masyarakat konsumsi di era kapitalisme mutakhir tidak lagi sekadar mengkonsumsi nilai guna dan nilai tukar. Lebih dari itu, masyarakat kini beralih pada konsumsi nilai tanda dan nilai simbolik.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah, seperti yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya, Semiotika dan Hypersemiotika (Pilliang, 2012: 143), “...di dalam konsumsi yang dilandasi oleh nilai tanda dan citraan ketimbang nilai utilitas, logika yang mendasarinya bukan lagi logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat (desire). Ketika logika hasrat yang digunakan para pelajar terus menerus dipenuhi demi sebuah kepuasan, maka kepuasan yang timbul adalah kepuasan semu.


Memuaskan hasrat adalah sebuah bentuk keinginan utopis. Hal ini dikarenakan hasrat hanya akan menghasilkan hasrat yang lebih tinggi. Kepuasan adalah sebuah bentuk semu yang ditawarkan oleh kapitalisme kepada para konsumen yang mengkonsumsi tanda dan simbol. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Gilles Deleuze dan Felix Guattari dalam karyanya yang berjudul Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia (1977), “hasrat tidak akan pernah terpuaskan, oleh karena ia selalu direproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi oleh apa yang disebut sebagai mesin hasrat (desiring machine)”.









Komentar

Postingan Populer